ingat-ingat pesan bapak [01] ^_^’

Maaf, bukannya rasis, ini hanya mengingat2 wejangan si Bapak yang sebenernya tidak hanya berlaku untuk wanita jawa. Bahkan berlaku untuk pria juga.

Sejak dulu si Bapak selalu me-wanti2 aku untuk bersahabat dengan yang namanya “nrimo” dan “prihatin”.

Jadi wanita jawa itu sing nrimo

begitu kata Bapak di suatu hari saat aku yang waktu itu masih kecil, sesekali mengeluh akan sebuah keadaan. Tak ada gunanya mengeluh kalau tidak melakukan sesuatu. Begitu, kata beliau kemudian. Nrimo… Sabar…

Prihatin ya nduk ya..

itu pesan berikutnya. Untuk prihatin, untuk kuat, tough dalam segala kondisi. Wanita jawa, yang “kesan umum”nya halus seperti tak ada kekuatan, tp sebenarnya dia tidak tak punya kekuatan. ia hanya lentur, lentur seperti baja. yang tak patah saat didera beban.

Then, the questions are, how tough is my heart? is it as tough as expected? how will i react when it’s broken into pieces? #disambung2in

#Bonus dialog:

tuutt….tuut….

“Hallo, assalamu’alaikum”

“waalaikumsalam”

“Pae, sek nopo pak?”

“ra nopo-nopo ki, mung nonton tivi”

“Pae, aku kangennn”

“Emange aku ora?”

πŸ˜€

That’s our dialogue when i really miss him. mau telpon, tapi bentar ya pak, saya beli pulsa dulu. ^^V

Advertisements
This entry was posted in Engineering, just a shot, L.I.F.E, Uneg and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to ingat-ingat pesan bapak [01] ^_^’

  1. rambo says:

    tulisan ini membuat sy tersenyum (bahkan ngakak di bagian dialog telepon)…sekaligus terharu…
    wanita jawa lentur seperti baja…perumpamaan yang luar biasa…

    Like

leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s